BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

WHO dan beberapa badan dunia lainnya tahun 1998, menghimbau semua Negara Asia Tenggara agar memberikan komitmennya untuk memperhatikan dan melindungi kebutuhan remaja akan informasi, ketrampilan, pelayanan dan lingkungan yang umum dan kesehatan reproduksi remaja. (Soetjiningsih, 2004).

Departemen kesehatan RI bersama lembaga swasta tahun 1996 telah merumuskan tentang empat komponen pelayanan reproduksi essensial yaitu kesehatan Ibu dan anak, keluarga berencana, pencegahan dan pemberantasan IMS/ HIV-AIDS dan dengan sendirinya harus ditangani secara khusus yaitu dengan peralatan yang cukup dan tenaga yang terlatih.

Tujuan kesehatan reproduksi remaja adalah menurunkan resiko kehamilan dan pengguguran yang tidak aman, menurunkan penularan IMS/HIV-AIDS, memberikan informasi kontrasepsi dan konseling untuk mengambil keputusan sendiri tentang kesehatan reproduksi. (Soetjiningsih, 2004).

Remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa, dimana terjadi pacu tumbuh, timbul ciri-ciri seks sekunder, tercapainya fertilitas dan terjadi perubahan­-perubahan psikologik serta kognitif. Untuk tercapainya tumbuh kembang yang optimal tergantung pada potensi biologiknya. Tingkat tercapainya potensi biologik seorang remaja merupakan hasil interaksi antara faktor genetik dan lingkungan Biofisikopsikososial. Proses yang unik dan hasil akhir yang berbeda-beda. (Soetjiningsih, 2004).

Selama perkembangan menuju dewasa, tubuh berkembang secara terus menerus. Keseluruhan frekuensi perubahan terjadi dengan cepat sebelum lahir, selama masa bayi, dan saat pubertas.(Cristian , 2004).

Masa pubertas adalah terjadinya perubahan biologis yang meliputi morfologi dan fisiologi yang terjadi dengan pesat dari masa anak kemasa dewasa, terutama kapasitas reproduksi yaitu perubahan alat kelamin dari tahap anak kedewasa. (Soetjiningsih, 2004).

Pubertas dimulai sekitar usia 10 atau 11 tahun pada remaja putri, kira-kira 2 tahun sebelum perubahan pubertas pada remaja laki-laki. Kematangan seksual dan terjadinya perubahan bentuk tubuh sangat berpengaruh pada kehidupan kejiwaan remaja, sementara itu perhatian remaja sangat besar terhadap penampilan dirinya sehingga mereka sering merisaukan bentuk tubuhnya yang kurang proporsional tersebut. Apabila mereka sudah dipersiapkan dan mendapatkan informasi tentang perubahan tersebut maka mereka tidak akan mengalami kecemasan dan reaksi negatif lainnya, tetapi bila mereka kurang memperoleh informasi, maka akan merasakan pengalaman yang negatif (Soetjiningsih, 2004).

Menurut WHO (1995) sekitar seperlima dari penduduk dunia adalah remaja berusia 10-19 tahun. Sekitar 900 juta berada di negara sedang berkembang. Data demografi di Amerika Serikat (1990) menunjukkan jumlah remaja berumur 10-19 tahun. Sekitar 15 % populasi. Di Asia Pasifik dimana penduduknya merupakan 60 % dari penduduk dunia, seperlimanya adalah remaja umur 10 – 19 tahun. Di Indonesia menurut Biro Pusat Statistik (1999) kelompok umur 10 – 19 tahun adalah sekitar 22 % yang terdiri dari 50,9 % remaja laki-laki dan 49,1 % remaja perempuan. (Nancy P, 2002).

Sedangkan jumlah penduduk di kotamadya Sibolga tahun 2005 adalah 6.983.699 jiwa dan jumlah remaja usia 10-14 tahun adalah 714.615 jiwa sedangkan yang berusia 15-19 tahun adalah 761.516 jiwa (Kelurahan Rawang III 2009), saat ini jumlah penduduk di Kotamadya Sibolga sekitar 125.086 jiwa, sedangkan jumlah penduduk usia 10-14 tahun adalah 12.334 jiwa, sedangkan jumlah penduduk usia 11-14 tahun adalah 14.513 jiwa (Kelurahan Rawang III 2009).

Batasan penelitian ini adalah pengetahuan pengaruh pubertas terhadap pergaulan bebas di kelurahan Rawang III Sibolga meliputi pengertian pubertas terhadap pergaulan bebas.

Dari hasil prasurvey terhadap 15 remaja yang berusia 11-14 tahun di kelurahan rawang III, peneliti melakukan wawancara mengenai pengaruh pubertas terhadap pergaulan bebas dan didapatkan bahwa hampir semuanya belum mengerti tentang pengaruh pubertas terhadap pergaulan bebas.

Berdasarkan fenomena di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan remaja awal usia (11-14 tahun) tentang pengaruh pubertas terhadap pergaulan bebas di kelurahan rawang III Sibolga.

  1. B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: “Bagaimana Pengaruh Pubertas Terhadap Pergaulan Bebas di Kelurahan Rawang III”.

  1. C. Ruang Lingkup Penelitian

1.  Jenis Penelitian        :    Deskriptif

2.  Subjek penelitian     :    Remaja di kelurahan Rawang III Propinsi SUMUT Kabupaten Tapanuli Tenggah Kotamadya Sibolga.

3.  Objek Penelitian      :    Pengaruh pubertas terhadap pergaulan bebas.

4.  Lokasi Penelitian     :    Kelurahan Rawang III.

5.  Waktu Penelitian     :    April-Mei 2007.

6.  Alasan Penelitian     :    Dari awal hasil presurvey terhadap 15 remaja yang berusia 11-14 tahun di Kelurahan Rawang, peneliti melakukan wawancara mengenai Pengaruh pubertas terhadap pergaulan bebas dan didapatkan bahwa hampir semuanya belum mengerti tentang pengaruh pubertas terhadap pergaulan bebas.

  1. D. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja awal (15-16 tahun) tentang pengaruh pubertas terhadap pergaulan bebas di kelurahan Rawang III Sibolga tahun 2010.

  1. E. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi :

  1. Bagi Tempat Penelitian

Sebagai masukan informasi bagi kelurahan Rawang mengenai pengetahuan remaja awal (11 -14 tahun) tentang pengaruh pubertas terhadap pergaulan bebas.

  1. Bagi Instansi

Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan untuk memperluas wawasan mahasiswa jurusan kebidanan.

  1. Bagi penelitian

Dapat memberikan masukan hal – hal apa saja yang telah diteliti sehingga digunakan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya.

  1. Bagi Responden

Sebagai bahan informasi dan dapat menambah pengetahuan remaja awal (11-14 tahun) di kelurahan Rawang tentang pengaruh pubertas terhadap pergaulan bebas.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. Telaah Pustaka
    1. 1. Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. (Notoatmodjo, 2003).

Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia, yang sekedar menjawab pertanyaan “what“, misalnya apa air, apa manusia, apa alam dan sebagainya. (Notoatmodjo, 2002).

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior).

Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru, di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yaitu :

  1. Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu.
  2. Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus.
  3. Evaluation (menimbang-nimbang baik tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya).
  4. Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru.
  5. Adoption, dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
  1. 2. Tingkat Pengetahuan
    1. Tahu (know)

Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.

  1. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

  1. Aplikasi (application)

Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).

Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

  1. Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.

  1. Sintesis (synthesis)

Adalah suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

  1. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi adalah kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek. (Notoatmodjo, 2003)

  1. 3. Definisi Remaja

Remaja adalah masa transisi antara masa anak dan dewasa, dimana terjadi pacu tumbuh, timbul ciri-ciri seks sekunder, tercapainya fertilitas dan terjadi perubahan-perubahan psikologik serta kognitif (Soetjiningsih, 2004).

Remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, yang dimulai pada saat terjadinya kematangan seksual yaitu antara usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 20 tahun yaitu menjelang masa dewasa muda. Remaja tidak mempunyai tempat yang jelas, yaitu bahwa mereka tidak termasuk golongan anak-anak tetapi tidak juga termasuk golongan orang dewasa. (Soetjiningsih, 2004).

Batasan remaja menurut WHO:

Remaja adalah suatu masa dimana :

  1. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
  2. Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
  3. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh dengan keadaan yang relatif lebih mandiri. (Muangman, 1980: 9).

Dalam tumbuh kembangnya menuju dewasa, berdasarkan kematangan psikososial dan seksual, semua remaja akan melewati sebagai berikut:

  1. Masa remaja awal /dini (Early adolescence) umur 11 – 13 tahun.
  2. Masa remaja pertengahan (Middle adolescence) umur 14 -16 tahun.
  3. Masa remaja lanjut (Late adolescence) umur 17 – 20 tahun.

(Soetjiningsih, 2004).

Tabel 2.1  Tahapan perkembangan remaja

Tahapan Remaja Umur (tahun)

Laki-laki

Umur (tahun)

perempuan

Pra remaja

Remaja Awal

Remaja Menangah

Remaja Akhir

< 11

11-14

14-17

> 17

< 9

9-13

13-16

> 16

Sumber : Dikutip dari PPFA, Adolescence Sexuality, 2001.

  1. Masa Pra Remaja

Masa pra remaja adalah suatu tahap untuk memasuki tahap remaja yang sesungguhnya. Pada masa ini ada beberapa indikator yang telah dapat ditentukan untuk menentukan indentitas gender laki-laki atau perempuan. Ciri-ciri perkembangan seksual pada masa ini antara lain ialah : perkembangan fisik yang masih tidak banyak berbeda dengan sebelumnya. Pada masa ini juga mereka sudah mulai senang mencari tahu informasi tentang seks dan mitos seks baik dari teman sekolah, keluarga atau dari sumber lainnya.

  1. Masa Remaja Awal

Merupakan tahap awal remaja sudah mulai tampak ada perubahan fisik yaitu: fisik sudah mulai matang dan berkembang, remaja sudah mulai mencoba melakukan onani karena telah sering kali terangsang secara seksual akibat pematangan yang dialami. Rangsangan ini diakibatkan oleh faktor internal yaitu meningkatnya kadar testosterone pada laki-laki dan estrogen pada perempuan. Hampir sebagian besar dari laki-laki pada periode ini tidak bisa menahan untuk tidak melakukan onani, sebab pada masa ini mereka sering kali mengalami fantasi. Selain itu tidak jarang dari mereka yang memilih untuk melakukan aktivitas non fisik untuk melakukan fantasi atau menyalurkan perasaan cinta dengan teman lawan jenisnya yaitu dengan bentuk hubungan telephone, surat menyurat atau menggunakan sarana komputer.

  1. Masa Remaja Menengah

Pada masa ini para remaja sudah mengalami pematangan fisik secara penuh yaitu anak laki-laki sudah mengalami mimpi basah sedangkan anak perempuan sudah mengalami haid.

  1. Remaja Akhir

Pada masa ini remaja sudah mengalami perkembangan fisik secara penuh, sudah seperti orang dewasa, mereka telah mempunyai perilaku seksual yang sudah jelas dan mereka sudah mulai mengembangkannya dalam bentuk pacaran. Pada tahap ini juga remaja telah mencapai kemampuan untuk mengembangkan cit-citanya sesuai dengan pengalaman dan pendidikannya (Soetjiningsih, 2004).

  1. 4. Pubertas
    1. Pengertian

Pubertas adalah suatu tahap dalam kehidupan remaja yang lebih dilandasi oleh perubahan fisik yang kemudian dikaitkan dengan perkembangan kebutuhan psikologisnya. Ia terletak diantara tahap-tahap perkembangan psikologis di atas tetapi rentang usia biologisnya lebih jelas.

Istilah pubertas berasal dari kata pubes yaitu bagian dari tubuh yang menutupi bagian depan tulang pinggul dan di dalam area itu terdapat alat kelamin. Pubertas dapat diartikan sebagai tahap ketika seorang remaja memasuki kematangan seksual dan mulai berfungsinya organ-organ reproduksi. (Kartono Mohamad, 1998)

Awal pubertas terjadi pada usia antara 9 – 13 tahun, pada beberapa anak pubertas terjadi di atas umur tersebut. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa munculnya masa pubertas dipengaruhi oleh status gizi dan kegiatan fisik. Gadis-gadis yang kurang gizi, yang melakukan diet dan berusaha menurunkan berat badannya dengan berbagai cara, mengalami keterlambatan dalam saat menarche. (Kartono Mohamad, 1998).

Pubertas dibagi menjadi 2, yaitu : Pubertas prekok dan pubertas terlambat.

1)      Pubertas prekok

Bila tanda-tanda pubertas ditemukan sebelum umur 8 tahun pada perempuan dan sebelum umur 9 tahun pada laki-laki.

Pubertas prekok dapat diklasifikasikan berdasarkan aktifitas dari aksis neuroendokringonud. Pada anak perempuan tanda fisik yang khas adalah adanya telarche atau pembesaran payudara dan adanya pubarche atau pertumbuhan rambut pubis serta terjadinya menstruasi. Pada anak laki-laki pubertas ditandai dengan membesarnya volume testis, diikuti dengan pertumbuhan rambut pubis dan bertambah panjangnya ukuran penis.

Pada anak-anak dengan pubertas prekok kadar hormon FSH dan LH meningkat sesuai masa pubertas. Untuk mengetahui lokasi kerusakan Hipotalamus atau di Hipofise dengan tes stimulasi dari GnRH.

Berdasarkan penyebabnya pubertas prekok dibagi menjadi :

a)   Pubertas prekok tergantung gonadotropin (GDPP)

Disebabkan karena terangsangnya secara lebih awal aksis Hipotalamus – Hipofise yang normal, selain itu penyebab GDPP bisa berupa trauma kepala, tumor otak, hidrosepalus.

b)      Pubertas prekok tidak tergantung gonadotropin (GIPP)

GIPP sering disebut juga pubertas perifer, dimana GIPP ini disebabkan oleh tidak normalnya produksi hormon seks steroid dan tidak ada aktifasi dari aksis Hipotalamus – hipofise.

Penanganan pubertas perekok :

Tipe GDPP adalah GnRH agonis akan menyebabkan menurunnya kadar FSH dan LH serta rendahnya kadar seks steroid. Sedangkan pada GIPP dapat diberikan medroxiprogesteron asetat (Depo provera), dapat mencegah menstruasinya dan gangguan psikologisnya. Dosis yang direkomendasikan 54 mg/bulan, intramuskular.

2)      Pubertas terlambat

Pada perempuan didefinisikan tidak membesarnya payudara sampai umur 13 tahun atau tidak adanya menstruasi sampai umur 15 tahun. Pada laki-laki didefinisikan bila panjang testis tidak mencapai 2,5 cm atau volume testis tidak mencapai 4 ml sampai umur 14 tahun.

Etiologi

a)      Hipergonadotropic hipogonadism

Kadar gonadotropic (FSH dan LH) meningkat namun kadar hormon sel steroid seperti testosteron dan estrogen tetap rendah, hal ini menandakan kerusakan tidak pada aksis Hipotalamus Hipofise.

b)      Hipogonadotropic Hipogonadism.

Pertumbuhan normal selama fase anak tetapi sedikit terjadi peningkatan pertumbuhan selama pubertas.

Penatalaksanaan

Pengobatan yang digunakan tergantung penyebabnya dan yang sering digunakan adalah seks steroid dosis rendah ditingkatkan secara bertahap dimana pada laki-laki digunakan testosteron enante intramuskular dan pada perempuan digunakan estrogen dan medrokiprogesteron.

Dengan menggunakan seks steroid dosis rendah yang ditingkatkan secara bertahap akan terangsang secara alamiah dengan efek samping yang minimal pada pertumbuhan.

  1. 5. Perubahan Fisik Pada Saat Pubertas

Perubahan fisik pubertas dimulai pada sekitar usia 10 atau 11 tahun pada remaja putri, kira-kira 2 tahun sebelum perubahan pubertas pada anak laki-laki. perubahan-perubahan ini dapat dibagi menjadi 4 kategori :

  1. Akselerasi kemudian deselerasi pertumbuhan tulang yaitu lonjakan pertumbuhan remaja.
  2. Perubahan komposisi tubuh sebagai hasil pertumbuhan tulang dan otot serta perubahan dalam kuantitas dan distribusi lemak.
  3. Perkembangan sistem respirasi dan sirkulasi serta organ internal lainnya.
  4. Perkembangan organ reproduksi (Cristian, 2004).

(Muss, 1968 : 7) membuat urutan perubahan-perubahan fisik sebagai berikut :

  1. Pada anak perempuan.

1)      Pertumbuhan tulang-tulang (badan menjadi tinggi, anggota-anggota badan menjadi panjang).

  • Pertumbuhan payudara.
  • Tumbuh bulu yang halus dan lurus berwarna gelap di kemaluan.
  • Mencapai pertumbuhan ketinggian badan yang maksimal setiap tahunnya.
  • Bulu kemaluan menjadi keriting.
  • Haid.
  • Tumbuh bulu-bulu ketiak.

2)      Pada anak laki-laki.

  • Pertumbuhan tulang-tulang.
  • Testis membesar.
  • Tumbuh bulu kemaluan yang halus, lurus dan berwarna gelap.
  • Awal perubahan suara.
  • Ejakulasi.
  • Bulu kemaluan menjadi keriting.
  • Pertumbuhan tinggi badan mencapai tingkat maksimal setiap tahunnya.
  • Tumbuh rambut-rambut halus di wajah (kumis, jenggot).
  • Tumbuh bulu ketiak.
  • Akhir perubahan suara.
  • Rambut-rambut di wajah bertambah tebal dan gelap.
  • Tumbuh bulu di dada.

Hormon-hormon seksual yang mengatur fisik remaja :

Alat-alat tubuh yang mengeluarkan zat-zat tertentu disebut kelenjar. Kelenjar yang berkaitan dengan pertumbuhan seks adalah :

  1. Kelenjar bawah otak (pituitary)

Beberapa diantara hormon-hormon dikeluarkan oleh kelenjar pituitary yang berpengaruh pada seksualitas, yaitu :

1)      Hormon pertumbuhan.

Hormon ini merangsang tulang-tulang panjang, sehingga tulang-tulang panjang itu bertambah panjang.

2)      Hormon perangsang pada pria.

Hormon yang mempengaruhi testis. Pada remaja hormon ini merangsang testis sehingga memproduksi hormon testosteron dan Androgen serta sel benih laki-laki (spermatozoa).

3)      Hormon pengendali.

Pada wanita mempengaruhi indung telur untuk memproduksi ovum dan hormon estrogen dan progesteron.

4)      Hormon air susu mempengaruhi kelenjar susu wanita di masa wanita itu sedang menyusui bayinya.

  1. Testis

Testis memproduksi :

1)      Hormon androgen dan testosteron yang menyebabkan tumbuhnya tanda-tanda laki-laki pada orang yang bersangkutan seperti kumis dan jenggot, jakun, otot yang kuat, suara yang berat, bulu kemaluan dan ketiak.

2)      Benih laki-laki (spermatozoa)

Sejak remaja spermatozoa dibentuk/diproduksi beratus-ratus juta tiap harinya sampai orang bersangkutan berusia lanjut.

  1. Indung telur (ovarium)

Ovarium memproduksi :

1)      Hormon progesteron, untuk mematangkan dan mempersiapkan sel telur sehingga siap untuk dibuahi.

2)      Hormon estrogen, mempengaruhi pertumbuhan sifat-sifat kewanitaan pada tubuh seseorang (payudara membesar, pinggul membesar, suara halus dan mengatur daur siklus haid.).

3)      Sel telur.

Sudah terkandung dalam jumlah banyak di dalam indung telur tetapi baru dimatangkan satu persatu sejak masuk usia remaja. (Sarlito Wirawan Sarwono, 2004).


  1. B. Kerangka Konsep

Menurut Notoatmodjo (2005) yang dimaksud dengan kerangka konsep penelitian adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan. Berdasarkan pengertian di atas maka dibuat kerangka konsep penelitian sebagai berikut :

Keterangan :

:  diteliti

:  tidak diteliti

Gambar 1. Kerangka Konsep Penelitian

  1. C. Definisi Operasional

Menurut Notoatmodjo (2005), untuk membatasi ruang lingkup atau pengertian variabel-variabel diamati/diteliti perlu sekali variabel-variabel tersebut diberi batasan atau “Definisi operasional”. Definisi operasional dapat bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta pengembangan instrumen alat ukur.

Tabel 1. Definisi Operasional

Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil ukur Skala
Kriteria Nilai
Pengetahuan remaja awal (11-13 th) tentang pubertas meliputi: Pemahaman informasi yang diperoleh remaja awal (11-13 th) tentang pubertas Angket Kuisioner Kategori

a. Baik

b. Cukup

c. Kurang

  • 41-60
  • 21-40
  • 0-20
Ordinal
  1. Pengertian pubertas
Suatu tahap dalam kehidupan remaja yang lebih dilandasi oleh perubahan fisik yang kemudian dikaitkan dengan perkembangan kebutuhan psikologinya Angket Kuisioner Kategori

a. Baik

b. Cukup

c. Kurang

  • 21-30
  • 11-20
  • 0-10
Ordinal
  1. Perubahan fisik pada saat pubertas
Perubahan yang dimulai pada usia sekitar 10 atau 11 tahun pada remaja putri, kira-kira 2 tahun sebelum perubahan pubertas pada anak laki-laki Angket Kuisioner Kategori

a. Baik

b. Cukup

c. Kurang

  • 21-30
  • 11-20
  • 0-10
Ordinal

BAB III

METODE PENELITIAN

  1. A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam Karya Tulis ini adalah jenis penelitian deskriptif Menurut Notoatmodjo (2005), “Metode penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif”.

Dengan demikian penelitian ini menggambarkan pengetahuan remaja awal tentang pubertas.

  1. B. Populasi dan Sampel
    1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2005). Populasi dalam penelitan ini adalah seluruh remaja awal yang berusia 11 – 13 tahun di SMP Kartikatama Metro Kecamatan Metro Selatan Kota Metro tahun 2007 yang berjumlah 311 siswa.

  1. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Arikunto, 2002 : 109). Apabila subjeknya besar dapat diambil antara 10 – 15% atau 20 – 25% atau lebih, tergantung setidak-tidaknya dari :

  1. Kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga dan dana.
  2. Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subjek, karena ini menyangkut banyak sedikitnya data.
  3. Besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti. (Arikunto, 2002 : 112)

Sampel yang akan diambil dalam penelitian ini adalah 25% dari jumlah populasi.

Maka dalam penelitian ini diambil 78 orang dari 311 orang remaja awal usia  11-13 tahun di SMP Kartikatama Metro Kecamatan Metro Selatan Kota Metro. Cara pengambilan sampel dengan teknik random sampling.

  1. C. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat-alat yang akan digunakan dalam pengumpulan data. Instrumen penelitian dapat berupa : kuesioner (daftar pertanyaan), formulir observasi, formulir-formulir lain yang berkaitan dengan pencatatan data (Notoatmodjo, 2005 : 48).

Kuesioner adalah suatu metode pengumpulan data dengan jalan mengajukan suatu daftar pertanyaan tertulis kepada sejumlah responden, dimana responden tinggal memberikan jawaban atau dengan memberikan tanda-tanda tertentu. (Notoatmodjo, 2005 : 116).

Dalam penelitian ini kuisioner terdiri dari 20 pertanyaan dengan kisi-kisi pertanyaan sebagai berikut:

No Pertanyaan Item
1

2

Pengetahuan pubertas

  • Pengkategorian remaja
  • Pengertian pubertas

Perubahan fisik pada saat pubertas

  • Pengertian perubahan fisik saat pubertas
  • Perubahan fisik remaja pada saat pubertas
  • Hormon yang mempengaruhi perubahan fisik pada saat pubertas
1 – 2

3 – 10

11

12 – 14

15 – 20

  1. D. Teknik Pengumpulan Data

Langkah-langkah yang ditempuh dalam pengumpulan data meliputi :

  1. Tahap Persiapan

Dalam tahap persiapan ini berisikan kegiatan data meliputi :

  1. Menentukan sasaran atau populasi
  2. Menetapkan jumlah sampel
  3. Membuat kerangka konsep
  4. Membuat pelaksanaan

Pengumpulan data dengan menggunakan metode kuesioner dengan melalui tahapan sebagai berikut :

  1. Menggunakan surat izin meneliti pada tempat yang telah ditentukan
  2. Mengumpulkan data dengan metode wawancara dilanjutkan dengan pembagian kuesioner.
  3. Memproses dan menganalisis data jawaban kuesioner yang telah terkumpul.
  1. Tahap Pengolahan Data
    1. a. Editing

Mengolah data sedemikian rupa sehingga jelas sifat-sifat yang dimiliki oleh data tersebut. Untuk dapat melakukan pengolahan data dengan baik, data tersebut perlu diperiksa terlebih dahulu, apakah telah sesuai seperti yang diharapkan atau tidak.

  1. b. Coding

Coding ini dipandang perlu karena data yang terkumpul banyak macamnya. Untuk memudahkan pengolahannya, semua jawaban tersebut yang dilakukan dalam bentuk memberikan simbol-simbol tertentu untuk setiap jawaban.

  1. c. Tabulating

Setelah editing dan coding selesai dilakukan langkah selanjutnya yang ditempuh ialah mengelompokkan data tersebut ke dalam suatu label tertentu menurut sifat-sifat yang dimilikinya, sesuai dengan tujuan penelitian. Pekerjaan pengelompokkan data dalam bentuk tabel menurut sifat-sifat tersebut (Azrul Azwar dan Joedo Prihartono, Metlit Kedokteran dan Kesmas, 2003).

  1. E. Tehnik Analisa Data

Tehnik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan perhitungan statistik sederhana yaitu persentase atau proporsi (Eko Budiarto, 2001 : 55).

Persentase atau proporsi akan menjadi distribusi frekuensi relatif jika data yang digunakan adalah data kualitatif, karena data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif maka digunakan analisa data menggunakan distribusi frekuensi relatif yang dirumuskan sebagai berikut :

Keterangan :

P  :  persentase

f :  frekuensi

n  :  jumlah responden

(Eko Budiarto, 2002).